|
Renungan: SpiritualitasYang Sehat Hidup beriman itu mesti seperti pohon atauorang, kian hari semakin besar dan dewasa. Seperti Yesus, yang kian hari bertambahbesar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah danmanusia (Lukas 2:52). Pertumbuhan yang dimaksudkan bukan saja fisik, tapi juga"isi". Pertumbuhan yang dialami Yesus bukan hanya secara jasmani, melainkanjuga pemahaman dan penghayatan hidup bersama Allah yang menjadikan-Nya semakinberhikmat. Dan, hikmat itu tidak lain Ia gunakan hanya demi kehidupan manusiayang semakin damai, sejahtera dan terbebaskan dari belenggu-belenggu dosa. Dengan demikian jelas bahwa spiritualitas yang sehat adalah spiritualitas yangmendewasa. Bagaimana kita bisa melihat adanya pertumbuhan pada spiritualitaskita? Paulus menjelaskannya dalam perbedaan antara spiritualitas orang dewasadengan spiritualitas kekanak-kanakan (I Kor. 3:2).
Perbedaaan spiritualitas kekanak-kanakan dengan spiritualitas dewasapertama-tama dilihat dari jenis makanan yang dibutuhkan. Masa kanak-kanakmembutuhkan makanan yang lunak, seperti susu dan bubur. Bukan makanan keras,karena mereka belum dapat mencerna dan mengolahnya. Materi-materi yangdibutuhkan bukan yang rumit berupa pemahaman-pemahaman kebenaran teologis yangmendalam, melainkan cerita-cerita singkat dan sederhana yang dimengerti sekalimendengar. Sementara spiritualitasyang dewasa sudah seharusnya memahami dasar-dasar kebenaran teologis,menghayati dan mewujudkannya. Makanan keras yang dimaksud bukan saja mencakuppemahaman, melainkan juga pengalaman dan perjuangan hidup yang nyata bersamadengan Tuhan dan sesama.
Perbandingan lain dapat juga kita lihat pada orientasi hidup masa kanak-kanakyang masih self oriented,spiritualitas yang berorientasi pada diri sendiri. Segala sesuatu disorot darisudut pandang dan selera pribadi. Perasaan mereka menentukan kebenaran, berbedadengan orang dewasa di mana kebenaran menjadi prinsip iman yang tegas dalammembentuk spiritualitas. Orang dewasa berani memegang kebenaran, sekalipunberesiko tinggi. Ini terjadi, karena orientasi sudah beralih dari diri sendirikepadaKebenaran Utama, yaitu Allah sendiri.
Perkembangan intelektual dan penalaran masa kanak-kanak yang masih bersifat pra-operasional. Masih banyak yangdikuasai ilusi dan fantasi sendiri. Sementara kemampuan intelektual danpenalaran orang dewasa sudah beroperasi sepenuhnya, mampu melihat dan memadukanseluruh unsur kehidupan untuk menemukan kebenaran. Dalam hal ini, segalaperbedaan tidak dibenci atau dimusuhi, tapi justru dirangkul, dihargai,dimanfaatkan dan memperkaya spiritualitas kita sendiri.
Selain itu, kesadaran sosial orang-orang dewasa mencakup seluruh kemanusiaan,sementara mereka yang masih kanak-kanak terbatas pada yang terlihat secarafisik. Cakrawala berpikir seorang dewasa seluas alam semesta, kepedulian dankeprihatinan mencakup seluruh umat manusia. Jauh dari pembedaaan danpengelompokkan, seperti yang gemar dilakukan anak-anak. Berbeda dengankanak-kanak yang menerima se'sama'/sekelompok, spiritualitas orang dewasamemiliki empati yang kuat terhadap semua orang.
Sudahkah kita memiliki spiritualitas yangsehat? Mari kita wujudkan spiritualitas yang sehat dalam diri kita denganmeminta hikmat Tuhan. Kiranya di tahun yang baru ini, tidak hanya jasmani yangbertumbuh, tetapi juga rohani kita boleh bertumbuh di dalam Kristus. Tuhanmemberkati. Amin. Oleh: Sdr.Marto Marbun, S.Si (Teol)/Pnt. DN
|