|
Komisi P2W
Kamis, 27 November, pk. 19.30
Rakor Antar Perlawatan
Komisi, Kepala/Wakil Rayon
Dpo:
Sdr. Daud C. Naibaho, S.Si (Teol)
Tema:
"Melayat orang yang berduka"
Bulan November Perlawatan Jemaat akan melawat ke wilayah-wilayah: 3-4, 4-1 & 4-8. Bagi yang memerlukan perlawatan khusus, harap menghubungi Tata Usaha atau Komisi Perlawatan: Ibu Liana (5869645), Ibu Milliany S. (56940029).
| | Read more... |
|
Komisi P2W
Selasa, 11 November, pk. 10.00
(PA) Buku Josua Bab. IV
"Meminta Kemenangan2 Allah"
Dpo : Ibu Kim Bee Hwa & Ibu Lian L.
Selasa, 18 November, pk. 11.00
Dpo: Sdr. Daud C. Naibaho, S.Si (Teol)
"Roh Kudus & Kehidupan
Orang-orang Percaya"
| | Read more... |
|
|
|
Jumat, 03 Juli 2009 |
|
SURATGEMBALA BADANPEKERJA MAJELIS SINODE GEREJAKRISTEN INDONESIA DALAMRANGKA PEMILUPRESIDEN (PILPRES) 2009 I "Dari Semak Duri Orang Tidak Memetik Buah Ara dan dari Duri-duri Tidak Memetik Buah Anggur" (Lukas 6 : 44) Atas nama Majelis Sinode GerejaKristen Indonesia, kami, Badan Pekerja Majelis Sinode (BPMS) GKI, menyampaikansalam sejahtera kepada seluruh anggota dan simpatisan GKI dari Batam sampaiBali. Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus,Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan. PemiluPresiden (Pilpres) pada 8 Juli 2009 sudah di depan mata. Kepada kami dan ketigaBadan Pekerja Majelis Sinode Wilayah (Jabar, Jateng, dan Jatim) datang banyakperta-nyaan di sekitar "Bagaimanakah seharusnya sikap anggota dan simpatisanGKI dalam menghadapi dan mengikuti Pilpres kali ini?". Tidak dapat disangkalPilpres adalah pe-ristiwa penting, yang akan menentukan arah dan gaya kehidupanbermasyarakat, ber-bangsa, dan bernegara dalam lima tahun ke depan. Tad dapatdisangkal, arah dan gaya itu akan mengimbas kepada kehidupan berdemokrasi,bermartabat, berkesejah-teraan, dan beragama. Namun demikian kami menangkapadanya semacam kebingungan dan rasa was-was, kalau-kalau rakyat keliru memilihpimpinan negara. Oleh sebab itu, kami berupaya menggali dan menganalisisinformasi mendalam yang dapat dipercaya, ketimbang yang muncul di permukaan danmedia tentang ketiga pasangan capres-cawapres yang ditawarkan kepada Indonesia. 1. Sosok Pasangan Capres danCawapres Kami berpandangan dalam menghadapiPilpres mendatang, fokus pertama yang amat perlu diperhatikan adalah sosokpasangan capres dan cawapres. Perhatikan sosok orangnya, bukan partaipolitiknya! Pilpres adalah pemilihanpribadi-pribadi yang bakal memimpinnegara. Jadi, fokus per-hatian kita adalah pada pribadi-pribadi yang menawarkandiri itu. Kami menganjurkan agar anggota dan simpatisan GKI lebih membaca body language pasangan capres dancawapres ketimbang jargon (slogan) dan verbalisme (ucapan bibir) mereka.Bagaimanapun pancaran body languageberbicara dan memberikan pesan yang lebih otentik. Body language dapat diandalkan lebih memberikan gambaran yangsebenar-nya mengenai mereka masing-masing. Di pihak lain, seperti kita tahubetul, jargon dan verbalisme selalu dapat diatur untuk memenangkan kompetisidan tidak selalu meru-pakan otentisitas diri pasangan capres dan cawapres yangbersangkutan. Selain itu, kita harus pahami rekam jejak para kandidat, baikcapres maupun cawapres. Menurut hemat kami, kita tidak boleh menjadi bangsayang pelupa. Kita tidak mungkin menye-rahkan tanggungjawab kepemimpinanterhadap bangsa ini kepada pemimpin yang dari rekam jejaknya kita ragukanintegritasnya. Baiklah kita ingat nasihat Kristus, "Orang yang baik mengeluarkan barang yang baikdari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barangyang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya,meluap dari hatinya" (Luk. 6:45). 2. Komposisi Koalisi PasanganCapres dan Cawapres Banyak kalangan merasa was-wasdengan dinamika koalisi sesudah Pemilu Legislatif 2009. Oleh karena itu, fokuskedua adalah mencermati dinamika koalisi. Rasa was-was bermunculan khususnya apabila kekuatan politis yangberkarakter fundamentalistik, tidak pro-demokrasi, dan tidak pro-pluralismeternyata sudah, sedang, dan akan ikut berpengaruh dalam koalisi pasangan capresdan cawapres. Kami telah menggali danmenganalisis informasi dinamis obyektif, yang bukan hanya terlihat di permukaandan yang bukan hanya bertolak dari rasa was-was. Hasil analisis itu adalahfakta bahwa kekuatan fundamentalistik tersebar di ketiga kubu, kekuatan yangtidak pro-demokrasi juga tersebar di ketiga pasangan, dan kekuatan yang tidakpro-pluralisme juga tersebar di ketiga pilihan. Menariknya, kelompok-kelompokkekuatan pro-demokrasi juga tersebar di ketiga pasangan capres dan cawapres. Bagi GKI, kandidat yang mestikita pilih adalah mereka yang mampu memenuhi kriteria ini. Pertama, kandidatyang sungguh-sungguh komitmen pada pluralisme suku dan agama. Kedua, kandidatyang berkomitmen memperkuat sistem dan budaya demokrasi yang berke-Tuhan-an,berkeadilan, menjunjung tinggi hak azasi manusia, dan meng-hargai kesetaraansetiap warga negara apa pun etnik, agama, dan kepercayaannya. Bagi GKI kriteriaini adalah sebuah imperative (amanat)yang tidak terhindarkan. Oleh karenaitu, kandidat yang cenderung mengggunakan politik sektarian dan primordial-ismeatau yang lebih mengutamakan kepentingan kelompok-kelompok tertentu dansebaliknya mengabaikan kelompok-kelompok lain adalah kandidat yang tidakmemiliki jiwa kenegarawanan yang sebaiknya tidak kita pilih. Meskipun demikian kamiberpandangan bahwa dinamika koalisi politik yang sedang berlangung tidak dapatdilihat sebagai fakta hitam-putih atau stillpicture belaka. Kita sudah dapat melihat bahwa ketiga pasangan capres dancawapres mempunyai platform yang samatentang negara, jadi apa pun keburukan dan kelemahan yang di-isukan oleh satupasangan terhadap pasangan yang lain mesti dicermati betul kebe-narannya secarautuh. Sudah jelas ketiga pasangan mempunyai kekuatan dan kele-mahanmasing-masing. Ketiga pasangan juga tampak mencolok berlomba-lomba menjadiakrab dengan kalangan pasar, militer, pesantren, dan gereja. Adanya kecenderunganmoney politics tampaknya merupakansesuatu yang sebaiknya kita semua harus cermati sekaligus waspadai. Ada hal lain lagi yang haruskita cermati selain sosok pasangan capres dan cawapres yang berlomba. Kamimenganjurkan agar warga GKI mencermati para juru bicara resmi dan orang-orangterdekat di sekitar ketiga pasangan kandidat tersebut. Ingatlah bahwaorang-orang ‘di sekitar' para kandidat ini adalah mereka yang akan berperan sangat besar dalam menentukan arah politik dan gaya kehidupan diTanah Air kita. Rekam je-jak, ideologipolitik, dan agama mereka, serta besarnya peran dan pengaruh mereka ter-hadappara kandidat harus juga menjadi bagian dari pertimbangan kita dalam memilih. 3. Perubahan Peta Kekuatan Politik2004 dan 2009 Fokus ketiga yang perlu dicermatiadalah perubahan peta kekuatan politik. Bicara tentang dinamika politik,anggota dan simpatisan GKI juga mesti menaruh perhatian kepada perubahankekuatan antara 2004 dan 2009. Yang dulu besar, mengecil; yang dulu kecil,membesar. Yang dulu kuat, melemah; yang dulu lemah, menguat. Yang duluberpengaruh, terpecah-pecah; yang dulu kurang berpengaruh, diperebutkan. Yangdulu banyak dan tebal, menipis; yang dulu sedikit dan tipis, menebal. Semua hal ini akan berimbas pada kemampuanmemimpin negara dan menentukan arah dan gaya kepemimpinan bernegara. Dalamrangka perubahan peta politik ini, kita dapat membaca siapa bakal menjadipemeran utama (main actor) dalamkepemimpinan negara dan seberapa berpengaruh kekuatan politis yang dimilikinya. Kami perlu menyampaikan bahwa Pilpresini berguna untuk membangun demokrasi di mana keadilan, kesetaraan, hak azasimanusia, dan kebebasan setiap warga negara dihormati. Oleh karena itu, kamimendorong partisipasi Anda dalam Pilpres ini. Jangan Anda menjadi golput! Danketika Anda berpartisipasi dalam Pilpres, ada hal lain yang lebih pentingdaripada sekedar mencontreng. Menurut kami, demokrasi tidak hanya dibangun olehpresiden dan wakil presidennya saja atau bahkan oleh para wakil rakyat diparlemen. Demokrasi hanya bisa dibangun ketika kita semua ikut membangunnya.Caranya adalah dengan berpartisipasi secara aktif di dalam pembangunandemokrasi itu dengan, antara lain, ikutmengontrol dan mengritisi proses politik dan berbagai kebi-jakan politik yangdikeluarkan baik oleh lembaga legislatif maupun lembaga eksekutif. Oleh karena itu, kami perlu menekankan bahwasudah saatnya bagi kita untuk terus-menerus melakukan pendidikan politik bagipara anggota GKI di jemaat-jemaat. Aspek ini penting agar setiap anggota GKI menyadarihak dan tanggungjawabnya serta mampu berpartisipasi secara aktif dalamkehidupan politik demi memperkuat sistem dan budaya demokrasi dan demi kebaikanseluruh warga masyarakat. Hal penting lain yang harus mulai kita pertimbangkanadalah ini. Sebagai gereja kita harus aktif membangun relasi dan kerjasamadengan kekuatan-kekuatan masyarakat yang memperjuangkan demokratisasi sepertikelompok-kelompok lintas-agama dan lintas-iman, koalisi perem-puan, kelompokanti-korupsi, dan kelompok yang memperjuangkan tegaknya hak azasi manusia.Dengan melakukan hal ini, kita melakukan tugas kita sebagai garam dan terangdunia. Demikianlah Surat Gembala ini, danseraya mengucapkan syukur kepada Allah,Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumbersegala penghiburan, kamimendoakan agar kita semua sebagai anggota dan simpatisan GKI dapat menggunakanhak pilih kita selaku warganegara dalam Pilpres 2009 dengan bijaksana danbertanggungjawab. Dalam Pilpres itu martabat kita selaku wargabangsa diwujudkandan kita ikut serta menentukan perjalanan bangsa kita lima tahun ke depan. Tuhan memberkati kita dalam sekalianmenyongsong Pilpres 2009 dan dalam menjalani Misi Allah yang adalah Misi Gerejaselaku kawan sekerja Allah. " ... Sebab setiap pohon dikenal pada buahnya. Karenadari semak duri orang tidak memetik buah ara dan dari duri-duri tidak memetikbuah anggur" (Luk. 6:44) Jakarta,25 Juni 2009 BadanPekerja Majelis Sinode GerejaKristen Indonesia Pdt. Dr. Albertus Patty Pdt. Dr. Lazarus H. Purwanto Ketua I(Bidang Kesaksian dan Pelayanan) Sekretaris Umum |
|
|
Jumat, 26 Juni 2009 |
Renungan: HIDUPBERSAMA Diatas cabang pohon, seekor burung sedang mengerami telur-telurnya. Tiba-tiba diamelihat seekor ular piton perlahan-lahan bergerak menuju dirinya. Sungguhburung yang malang, apa yang dapat diperbuatnya untuk melindungi telur-telurnyadari ancaman ular? Seekorkera lewat dan melihat keadaan itu, dia memberitahu burung itu, "Jangan takut.Saya akan mengusir ular itu; saya akan melemparkan batu ke arah dia." "Tapinanti batu-batu itu akan memecahkan telur-telurku," kata burung itu. Kemudianlewatlah seekor gajah. Dia pun melihat keadaan berbahaya itu dan menenangkanburung itu, "Tenang, janganlah menangis. Saya akan mengusir ular itu, saya akanmencabut pohon ini." "Tunggu," kata ibu burung itu. "Nanti kamu akan memecahkantelur-telurku." Akhirnya,burung itu berkesimpulan bahwa binatang-binatang besar itu tidak mampu mengusirular piton itu. Dan ia sedih sekali karena akan kehilangan telur-telurnya.Tiba-tiba sang kera mendapatkan gagasan. Apa gagasannya? Sang kera akan memintatolong semut-semut untuk menyelamatkan telur-telur itu. Akhirnya, ribuan semut memanjat pohon itu,menyelimuti tubuh ular piton itu dan tidak menyisakan apa pun kecuali kulit dantulang ular tersebut. Akhirnya, telur-telur burung itu pun selamat dan merekapun bersukacita. Kisahdi atas ingin menunjukkan betapa indahnya hidup bersama, di mana suasana kasihmewarnainya. Padahal keempat hewan di atas bukanlah saudara kandung, tetapimereka dipersatukan dalam keragaman mereka. Sebagai gereja, setiap orang pundatang dari berbagai latar belakang dan dipersatukan Allah untuk menjalanihidup bersama. Apa yang mempersatukan umat? Kasih Yesus yang mempersatukannya.Cinta kasih adalah inti ajaran Yesus. Ia tidak pernah menahan cinta kasih daridiri-Nya. Ia memberikannya dengan berlimpah. Bagi Yesus, cinta kasih mestidialirkan sebesar-besarnya demi memberikan kehidupan yang lebih baik bagisebanyak mungkin orang. Salah satu bentuk cinta kasihadalah kepedulian terhadap kebutuhan sesama. Setiap orang pasti punyakebutuhan. Secara mendasar, setiap orang bertanggung jawab untuk memenuhikebutuhannya masing-masing. Tetapi, dalam kenyataannya, tak jarang kita bertemudengan mereka yang tak mampu memenuhi kebutuhan sendiri. Berhadapan denganrealita tersebut, setiap orang yang menjadi bagian dari persekutuan Kristendipanggil untuk terlibat secara proaktif dan bertanggungjawab ataskeberlangsungan hidup sesamanya. Sehingga kelebihankamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkankekurangan kamu, supaya ada keseimbangan (II Korintus 8:14). Disekitar kita masih banyak orang yang membutuhkan pertolongan kita. Pasanglahmata, telinga, hati saya dan Saudara untuk melihat, mendengar, merasakanpenderitaan orang lain. Kepekaan terhadap keadaan sekitar akan mendorong kitauntuk menolong sesama kita, baik dalam gereja, keluarga, teman-teman, maupuntetangga-tetangga kita. Oleh karena itu, marilah kita menikmati persekutuandengan sesama dan mensyukuri anugerah yang luar biasa ini. Sekaligus jugamenyadari panggilan kita untuk berbagi dan saling tolong menolong. Tuhanmemberkati kita. Amin. Oleh : Sdr. Daud Chevi Naibaho, S.Si (Teol) |
|
|
Kamis, 18 Juni 2009 |
Renungan: KESUSAHANSEBAGAI KESEMPATAN Suatukali Fanny Crosby sangat memerlukan uang lima dollar dan ia tidak tahu darimana ia dapat memperoleh uang itu. Seperti biasanya, ia berdoa dan menyebutkeperluannya di dalam doanya. Tak lama kemudian ada orang yang mengetuk pinturumahnya. Ketika dibukanya, seseorang yang tidak dikenalnya memberikannya uanglima dollar. Tak terlukiskan herannya dan bahagianya, sambil mengucapkan terimakasih kepada orang itu. FannyCrosby mencatat: "Saya tidak dapat menjelaskan peristiwa ini, hanya ini yangsaya tahu, yaitu bahwa Tuhan mendengarkan doa saya dan menggerakkan hati orangitu untuk memberikan uang itu kepada saya. Tuhan luar biasa! Segera Fannymenulis sebuah syair dan menyerahkannya kepada Dr. Lowry untuk disusunmelodinya. Lagu itu tidak asing di telinga kita yang berjudul "Di Jalanku ‘KuDiiring" yang dapat kita lihat di Kidung Jemaat 408. Kisahini merupakan salah satu kesaksian Fanny Crosby. Fanny Crosby lahir pada tahun1823 di New York. Ia lahir di tengah keluarga yang sederhana. Pada waktu umurenam minggu Ia menjadi buta karena salah obat. Selama hidupnya ia menjadianggota Gereja Metodis di New York. Ia mendapat pendidikan di sekolah orangbuta di kota itu. Di kemudian hari tahun 1847 sampai 1858, Fanny menjadi gurudi sekolah itu juga. Pada tahun 1858, ia menikah dengan Alexander van Alstyne,juga buta dan bekerja sebagai guru yang sangat dihormati di sekolah itu. Menjelangumur empat puluh tahun ia bertemu dengan seorang pemusik gereja, WilliamBatchelder Bradbury, lalu mulai mengarang syair-syair rohani. William mencatatbahwa sejak itu Fanny "orang palingbahagia di dunia". Kata orang yang mengenal Fanny, ia tidak pernah mengarangsyair rohani sebelum ia berlutut berdoa untuk memohon bimbingan Tuhan. Iaselalu membawa Alkitab ke mana pun ia pergi. Fanny telah mengarang banyak syairrohani, dan beberapa sering kita nyanyikan di gereja yaitu "Mampirlah DengarDoaku" (KJ 26), "Mari Tuturkan Kembali" (KJ 145), "Puji Yesus" (KJ 293), "AkuMilikmu, Yesus Tuhanku" (KJ 362), "Pada Kaki Salibku" (KJ 368), "S'lamat DiTangan Yesus" (KJ 388), "Ku Berbahagia" (KJ 392), "Kuperlukan Jurus'lamat" (KJ402). Saudarakuyang terkasih dalam Tuhan Yesus, dari kisah di atas kita dapat meneladani imanFanny Crosby kepada Yesus. Meskipun ia buta sejak kecil namun ia tidak pernahberhenti melayani Tuhan. Mengapa demikian? Jawabannya, karena Fanny Crosbysenantiasa melihat kesusahan hidupnya sebagai sebuah kesempatan. Sebuahkesempatan untuk menunjukkan kesetiaan kepada Tuhan. Sebuah kesempatan emasuntuk memuliakan Tuhan. Saudaraku, kesusahan memang dapat menjatuhkan danmenghancurkan, tetapi dapat juga membangun dan menumbuhkan iman kita. Janganlahkita mundur dan jatuh karena kesusahan. Namun, biarlah melalui kesusahan hidupkita menghayatinya sebagai suatu kesempatan untuk menunjukkan kesetiaan kitakepada Tuhan sambil meyakini janji Tuhan, "Demikianlah TUHAN adalah tempatperlindungan bagi orang yang terinjak, tempat perlindungan pada waktukesesakan. Orang yang mengenal nama-Mu percaya kepada-Mu, sebab tidak Kautinggalkan orang yang mencari Engkau, ya TUHAN"(Mazmur 9:10-11). Tuhan memberkati kita. Amin. Oleh : Sdr. Daud Chevi Naibaho, S.Si (Teol) |
|
|
Sabtu, 13 Juni 2009 |
Renungan: AKU BERTANYA KEPADA TUHAN Aku bertanya kepada Tuhan,mengapa aku tidak kaya... Lalu Dia menunjukkan seorangpria dengan banyak harta, tetapi hidup kesepian, dan tidak memilih siapapun untukberbagi. Aku bertanya kepada Tuhan,mengapa aku tidak cantik... Lalu Dia menunjukkan seorangwanita dengan kecantikan yang melebihi lainnya, tetapi memiliki karakter yangburuk. Aku bertanya kepada Tuhan,mengapa Ia membiarkan aku menjadi tua... Lalu Dia menunjukkan seoranganak laki-laki berusia 16 tahun sedang terbujur kaku, meninggal karena kecelakaanmobil. Aku bertanya kepada Tuhan,mengapa aku tidak memiliki rumah besar... Lalu Dia menunjukkan sebuahkeluarga yang beranggotakan 6 orang, baru saja diusir dari rumahnya yang kecilsesak...dan terpaksa tinggal di jalanan. Aku bertanya kepada Tuhan,mengapa aku harus bekerja... Lalu Dia menunjukkan seorangpria, yang tidak bisa menemukan satu pekerjaan pun karena tidak pernah memilikikesempatan untuk belajar membaca. Aku bertanya kepada Tuhan,mengapa aku tidak menjadi orang terkenal... Lalu Dia menunjukkan seorangyang memiliki banyak sahabat, tetapi semuanya pergi ketika orang itu tidak memilikiharta lagi. Aku bertanya kepada Tuhan,mengapa aku tidak pintar... Lalu Dia menunjukkan seorangyang terlahir jenius, tetapi di penjara karena menyalahgunakan kepintarannyauntuk kejahatan. Aku bertanya kepada Tuhan, mengapa Ia begitu sabar denganorang yang tidak bisa bersyukur seperti aku... Dia lalu menunjukkan Alkitab-Nya...Dia menunjukkan Anak-Nya, yang telah mengambil alihtempatku di Kalvari. Aku tahu sekarang betapa besarIa mengasihiku... Dan itu sudah cukup bagiku. Dikutip dari CHANGE (Christian Life Style Magazine) |
|
|
Jumat, 22 Mei 2009 |
|
PESAN BULAN OIKOUMENE2009 PERSEKUTUANGEREJA-GEREJA DI INDONESIA " .... KEJARLAH DAMAISEJAHTERA DAN HIDUP SALINGMEMBANGUN" (bdk. Roma 14 : 19) Saudara-saudara warga gereja yang dikasihi YesusKristus! 1. Tatkala pada tanggal 25Mei 1950 gereja-gereja memutuskan untuk mendirikan "Dewan Gereja-gereja diIndonesia" (DGI), maka sejak itu sesungguhnya umat Kristen Indonesia tidak bisalagi mengelak dari komitmen mewujudkan "Gereja Kristen Yang Esa di Indonesia"(GKYE). Komitmen ini adalah pula komitmen kita sekarang, yang tetap diembandengan segala pasang-surutnya. Ada saat ketika kita amat optimis, sehingga kitaberpendapat GKYE diproklamasikan saja. Kita tidak sabar dengan berbagaiketerpisahan yang ada. Tetapi ada juga saat tatkala kita pesimis melihatberbagai perkembangan yang kurang menyenangkan dalam pergaulan antar-gereja diIndonesia. Kita cenderung saling mempersalahkan, menganggap diri lebih baikdari yang lain, bahkan cenderung saling menghakimi. Namun demikian, kita tidakpernah berputus asa. Pada tahun 1984 kita kembali menegaskan komitmen kita itudengan meningkatkan "Dewan" menjadi "Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia"(PGI). Setelah 25 tahun, maka saatnyalah bagi kita sekarang untuk melihatkembali apakah kita masih tetap berada pada jejak (track) yang benar, dan karena itu perlu diteruskan danditingkatkan. Ataukah kita telah menyimpang sehingga perlu diluruskan lagi.Sesungguhnya Gerakan Oikoumene lebih dari sekadar upaya untuk mewujudkan GKYE.Gerakan Oikoumene adalah memberlakukan Amanat Allah untuk secara terus-menerusmenjadikan dunia sebagai rumah yang layak dihuni. Itu berarti, selama masih adaketidakadilan, peperangan, konflik, teror, yang menyebabkan ketidaksejahteraan,maka dunia kita belumlah sebuah rumah yang layak huni. Oleh karena itu menjaditugas kita untuk senantiasa berjuang bagi hadirnya sebuah dunia yang layakhuni. Kondisi itu hanya bisa dicapai apabila gereja-gereja kita tidakterpecah-belah, tetapi seperti yang dinyatakan Yesus dalam doaNya "... supayamereka semua menjadi satu, .... supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telahmengutusAku ..." (Yoh. 17:21). 2. Tema Bulan Oikoumene 2009 ini berbunyi, ".... kejarlah damai sejahtera danhidup saling membangun" (bdk. Rm. 14:19). Ini adalah variasi dari penggalanayat Alkitab dalam rangkaian nasihat Rasul Paulus kepada jemaat di kota Roma.Jemaat Kristen yang masih sangat muda di kota metropolitan yang terkesandimarjinalkan ini membutuhkan nasihat-nasihat yang memperkuatanggota-anggotanya untuk mampu berdiri tegak di tengah-tengah dunia yang tidakramah. Salah satu unsur penting guna mencapai kekuatan itu adalah apabilajemaat tidak hidup terpecah-belah, sebaliknya hidup rukun di dalam persekutuansatu sama lain. Karena itu Rasul Paulus menyerukan agar anggota-anggota jemaattidak menghakimi satu sama lain, dengan misalnya melecehkan mereka yang lemahimannya dalam hal memakan jenis-jenis makanan (14:1-3), atau dalam halmenganggap hari yang satu lebih penting dari hari yang lain (14:5-6). RasulPaulus menegaskan, bahwa cara seperti itu justru membawa jemaat ke dalam sikaphidup egoisme, hal yang tidak bisa diterima di dalam hidup persekutuan. Jemaat,kata Rasul Paulus mestinya menyadari bahwa hidup dan mati mereka untuk Tuhan,sebagaimana diperlihatkan di dalam kematian dan kebangkitan Kristus (14:7-8).Dengan saling menghakimi ini jemaat akan menjadi batu sandungan bagisaudaranya. Keadaan ini tidak akan membawa damai-sejahtera di dalam kehidupanbersama. Kalau itu tidak tercapai, maka perpecahanlah yang terjadi. Makakejarlah damai sejahtera, dan pakailah segala kemampuan yang ada pada dirimasing-masing untuk saling membangun. Setelah 59 tahunberoikoumene, kita perlu mempertanyakan ulang secara jujur kepada diri kitamasing-masing, makin dekatkah kita satu sama lain, adakah kita saling membangun,atau justru biasa-biasa saja. Masihkah kita melihat PGI sebagai wadah yangdidalamnya keesaan diperjuangkan, atau justru wadah yang melestarikanperpecahan di antara gereja-gereja? 3. Bulan Oikoumene 2009 ini kita peringati dalam suasana bangsa kita sedangmelaksanakan agenda nasional penting, Pemilihan Umum. PGI telah menyerukankepada gereja-gereja untuk sungguh-sungguh melihat penyelesaian persoalanbangsa dan negara sebagai panggilan dengan ikut-serta dalam Pemilihan Umumsecara bertanggung-jawab dan mendengarkan suara hati nurani. Sidang MPL-PGIyang diselenggarakan tanggal 16-19 Februari 2009 di Makassar menegaskan tekadumat Kristen Indonesia untuk memperkuat komitmen pluralisme dan kebangsaan.Pluralisme adalah salah satu pilar penting bagi terpeliharanya, kesatuanbangsa. Siapa yang meremehkannya, sesungguhnya ia meremehkan kesatuan bangsa,yang akan menuju kepada keruntuhannya. Karena itu hadirnya sejumlah peraturandaerah dan Undang-undang yang bernuansa agama harus disikapi secara serius.Secara khusus kita memberi perhatian terhadap berbagai Rancangan Undang-Undangyang jelas-jelas menafikan kemajemukan, dan mereduksikan masyarakat Indonesiahanya sebagai sesuatu yang homogen. Hal ini mempermiskin wajah Indonesia yangselama ini dikenal di dunia justru oleh kekayaan dan keanekaragaman suku danagamanya. Persoalan kemiskinan tetap merupakan persoalan akut bangsa kita.Kendati para elit politik mengklaim berbagai keberhasilan di dalammenanggulangi kemiskinan, namun tetaplah merupakan kenyataan bahwa "orangmiskin selalu ada padamu..." Selama hal ini tidak tertanggulangi dengan baik,maka klaim kita untuk hidup dalam damai-sejahtera dan saling membangun tidakbermakna apa-apa. Itulah sebabnya kita mendukung tujuan Millenium DevelopmentGoals (MDGs) yang berfokus antara lain pada penghapusan kemiskinan, pendidikan,kesetaraan gender, perlawanan terhadap HIV/AIDS, dan pelestarian lingkunganhidup. Pada akhirnya, kami ingin mengajak gereja-gereja untuk: Pertama, terus-menerus dan bersungguh-sungguh memperjuangkan perwujudan keesaangereja disemua level dengan makin terbuka satu sama lain dalam kejujuran dankerjasama yang otentik. Kedua, memberikan teladan bagaimana sesungguhnya hidup dalam damai-sejahteradan saling membangun. Keteladanan ini seharusnya terpancar keluar, kepadaseluruh warga bangsa agar merekapun mampu hidup dalam damai sejahtera dansaling tidak mempersalahkan satu terhadap yang lain. Ketiga, secara bersungguh-sungguh memantau dan mengawasi agar penyelenggaraanpemilihan Presiden dan Wakil Presiden, serta negara dan bangsa benar-benarmenjadikan pluralitas bangsa sebagai pilar utama didalam membina danmengupayakan kesatuan. Demikian pesan dan harapan kami di bulan Oikoumene2009 ini. Kiranya Tuhan memberkati segala upaya kita di dalam mewujudkankeesaan gereja demi kemuliaan Nama-Nya. Selamat merayakan Bulan Oikoumene. Jakarta, Awal Mei2009 Atas nama MAJELISPEKERJA HARIAN PERSEKUTUANGEREJA-GEREJA DI INDONESIA Pdt. Dr. A. A.Yewangoe Pdt. Dr.Richard M. Daulay Ketua Umum Sekretaris Umum |
|
| | |